Eksistensi Kebudayaan Hindu Transmigran Melalui Upacara Ngaben Massal Di Balinuraga Lampung Selatan

Authors

  • Wayan Sukarlinawati Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung Author

DOI:

https://doi.org/10.67996/15x2hv28

Keywords:

Kata Kunci: Eksistensi, Kebudayaan Hindu, Upacara Ngaben Massal

Abstract

Upacara Ngaben Massal (Ngerit) di Desa Pekraman Adat Balinuraga, Lampung Selatan pada bulan Agustus tahun 2026 menjadi momentum kultural terbesar dalam sejarah transmigran Hindu di Lampung karena menyucikan 285 sawa (jenazah) dan mendirikan bade setinggi 24 meter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana eksistensi kebudayaan Hindu transmigran diartikulasikan, dirawat, dan dikonstruksikan di tengah masyarakat multikultural melalui momentum ritus kematian kolektif tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, data primer dihimpun melalui observasi partisipatif lapangan selama rangkaian ritual berlangsung serta wawancara mendalam bersama prajuru adat, tokoh masyarakat, dan umat eks-transmigran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara Ngaben Massal di Balinuraga berfungsi sebagai instrumen penguatan eksistensi budaya melalui tiga dimensi utama. Pertama, dimensi solidaritas internal (bonding culture) yang mengaktifkan sistem gotong-royong (ngayah) antarlima banjar adat secara total. Kedua, dimensi hub spiritual regional (bridging culture) yang menyatukan umat Hindu eks-transmigran dari luar Provinsi Lampung seperti Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Ketiga, dimensi pengakuan publik (recognition) dari pemerintah daerah dan masyarakat luas yang mengukuhkan ritus ini sebagai bagian dari identitas pariwisata serta multikulturalisme regional di Provinsi Lampung. Implikasi riset ini menegaskan bahwa rasionalisasi ritual keagamaan melalui sistem massal tidak mengurangi nilai sakralitasnya, melainkan menjadi strategi teo-ekonomi yang efektif dalam menjaga ketahanan budaya kelompok minoritas di tanah perantauan. Keberhasilan pelaksanaan ritus kolosal ini membuktikan bahwa komunitas transmigran mampu mempertahankan local genius leluhur sekaligus menciptakan ruang kultural mandiri yang kokoh sebagai perekat integrasi sosial di tingkat regional

Downloads

Download data is not yet available.

References

Berry, J. W. (1997). Immigration, Acculturation, and Adaptation. Applied Psychology, 46(1), 5-34. doi.org

Budiadnya, P., & Sujaelanto. (2021). Agama Hindu Pelestari Budaya Lokal. Widya Aksara: Jurnal Agama Hindu, 26(1), 45-58.

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon and Schuster.

Sudarsana, I. K. (2025). Revitalisasi Dresta Nusantara dalam Arus Digitalisasi. Jayapangus Press.

Weber, M. (1922). The Sociology of Religion. (Edisi Terjemahan Inggris oleh Ephraim Fischoff, 1993). Beacon Press.

Wiana, I. K. (2006). Memahami Konsep Yadnya dalam Ajaran Hindu.

Hanuman Sakti.

Downloads

Published

02.11.2026

How to Cite

Eksistensi Kebudayaan Hindu Transmigran Melalui Upacara Ngaben Massal Di Balinuraga Lampung Selatan. (2026). Jurnal Pendidikan Agama, 17(2), 57-67. https://doi.org/10.67996/15x2hv28

Similar Articles

11-20 of 73

You may also start an advanced similarity search for this article.

Most read articles by the same author(s)