Kolaborasi Dan Kepemimpinan Lintas Agama Dalam Mempromosikan Harmoni Sosial: Wawasan Dari Pekon Pancasila Mataram, Pringsewu
DOI:
https://doi.org/10.67996/42hw3933Keywords:
Kata Kunci: Inklusivitas Beragama, Pekon Pancasila, Dialog Lintas Agama Organik, Kepemimpinan Inklusif, Harmoni Sosial, Pringsewu.Abstract
ABSTRAK Studi mengenai moderasi beragama kerap berfokus pada ranah kebijakan nasional atau institusi formal tingkat makro, sehingga meluputkan dinamika mikro dan praktik kerukunan di tingkat akar rumput. Artikel ini bertujuan mengisi celah akademis tersebut dengan menganalisis secara mendalam praktik inklusivitas dan kolaborasi kerukunan lintas agama di Pekon (Desa) Mataram, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung—sebuah kawasan multikultural yang secara informal dan emik dijuluki sebagai 'Pekon Pancasila'. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi etnografi sosiologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 28 informan kunci (meliputi Kepala Pekon, aparat pekon, tokoh agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, tokoh pemuda, serta masyarakat awam), observasi partisipatif intensif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni sosial yang berkelanjutan di Pekon Mataram ditopang oleh empat pilar interaksi yang saling menguatkan: (1) Dialog lintas agama organik yang bergeser dari sekadar wacana elitis-seremonial menuju everyday interfaith dialogue dalam perjumpaan harian warga; (2) Kegiatan bersama sebagai perekat sosial yang membangun modal sosial jembatan (bridging social capital) melalui pengamanan swabantu perayaan keagamaan dan kegiatan kebudayaan; (3) Pelembagaan kearifan lokal gotong royong dan mekanisme deliberasi musyawarah berfalsafah 'yo opo enake'; serta (4) Kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) dari pimpinan pekon dan para penganjur agama yang bertindak sebagai mediator budaya (cultural mediators). Kajian ini menyimpulkan bahwa kohesi sosial di masyarakat majemuk tidak dapat dipaksakan melalui regulasi instruktif top-down semata, melainkan dirawat melalui pelembagaan kebiasaan sosial yang dialogis dan partisipatif di tingkat lokal.Downloads
References
Abu-Nimer, M. (2001). Conflict resolution, culture, and religion: Toward a training model of interreligious peacebuilding. Journal of Peace Research, 38(6), 685–704. https://doi.org/10.1177/0022343301038006003
Acim, Subagja, D. J., Afiani, D. A., Pratama, G. R., & Al Kautsar, F. (2023). Exploring cultural diversity in Indonesia: Models, responses, and multicultural politics. CANDIDATE: Jurnal Sains Politik, 1(1), 35–55.
Akhmadi, A. (2019). Moderasi beragama dalam keragaman Indonesia. Jurnal Diklat Keagamaan, 13(2), 45–55.
Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice. Addison-Wesley.
Appleby, R. S. (2000). The ambivalence of the sacred: Religion, violence, and reconciliation. Rowman & Littlefield Publishers.
Casavecchia, A., Carbone, C., & Canta, A. F. (2023). Living interfaith dialogue during the lockdown: The role of women in the Italian case. Religions, 14(2), Article 252. https://doi.org/10.3390/rel14020252
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications.
Danunih. (2024). Kampung Moderasi Beragama. Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI. https://penais.kemenag.go.id/kmb/
Dukcapil Kemendagri. (2024). Data kependudukan dan keragaman Indonesia. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. https://dukcapil.kemendagri.go.id/
Durkheim, É. (1912). The elementary forms of the religious life (J. W. Swain, Trans.). George Allen & Unwin.
Etzioni, A. (1996). The responsive community: A communitarian perspective. American Sociological Review, 61(1), 1–11. https://doi.org/10.2307/2096403
Feldman, M. S., Khademian, A. M., & Quick, K. S. (2009). Ways of knowing, inclusive management, and promoting democratic engagement. International Public Management Journal, 12(2), 123–136. https://doi.org/10.1080/10967490902873424
Geertz, C. (1982). Abangan, santri, priyayi dalam masyarakat Jawa. Pustaka Jaya.
Haidar, A., Kiftiyah, A., Permadi, D. P., Herindar, E., Alim, F. S., & Yantari, H. F. (2023). Moderasi beragama di tengah isu kontemporer. Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama RI.
Huda, M., & Pratiwi, S. P. (2022, Maret 31). Melihat Kampung Pancasila di Desa Senduro Lumajang, hidup berdampingan dalam keragaman. Kompas.com. https://surabaya.kompas.com/read/2022/03/31/082838778/
Huda, M. Q., Sulaeman, M., & Marpuah, S. (2023). Inclusivity in Islamic conservatism: The moderate movement in Kediri, Indonesia. Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, 7(1), 77–92. https://doi.org/10.15575/rjsalb.v7i1.22648
Ilham. (2023, Juli 27). Desa di Lumajang wakili Kampung Moderasi Beragama Jatim. Kolomdesa.com. https://kolomdesa.com/2023/07/27/
Kementerian Agama RI. (2023). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Kementerian Agama RI.
Kementerian Agama RI. (2024). Capaian dan peta sebaran 1.000 Kampung Moderasi Beragama di Indonesia. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
Lederach, J. P. (2017). Building peace: Sustainable reconciliation in divided societies. United States Institute of Peace Press.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Noor, A. F. (2019). Multicultural education based in the local wisdom of Indonesia for elementary schools in the 21st century. Journal of International Social Studies, 9(1), 94–106.
Parhusip, A. (2024). Exploring the evolution of religious moderation leadership from the local to national level. HTS Teologiese Studies / Theological Studies, 80(1), Article a8630. https://doi.org/10.4102/hts.v80i1.8630
Patel, E. (2012). Sacred ground: Pluralism, prejudice, and the promise of America. Beacon Press.
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Qurtuby, S. A. (2016). Religious violence and conciliation in Indonesia: Christians and Muslims in the Moluccas. Routledge.
Ritzer, G. (2014). Teori sosiologi modern (Edisi ke-7). Prenadamedia Group.
Sa'ir, A., Sholahudin, U., & Trihartono, A. (2020). Social and cultural behavior in handling urban issues: The case of Surabaya, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 485(1), Article 012012. https://doi.org/10.1088/1755-1315/485/1/012012
Sair, A., & Elanda, Y. (2021). The cultural negotiation of being Shia and Madurese. Islamuna: Jurnal Studi Islam, 8(1), 40–59. https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i1.4300
Sair, A., & Sholahudin, U. (2025). Cross-religious collaboration and leadership in promoting social harmony: Insights from "Kampung Moderasi Beragama" Senduro, Lumajang. Jurnal Sosiologi Agama, 19(1), 27–38.
Setia, P., & Rahman, M. T. (2022). Socializing religious moderation and peace in the Indonesian landscape. Jurnal Iman dan Spiritualitas, 2(3), 333–340. https://doi.org/10.15575/jis.v2i3.17916
Setkab. (2023, September 27). Presiden Jokowi terbitkan Perpres 58/2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. https://setkab.go.id/presiden-jokowi-terbitkan-perpres-58-2023-tentang-penguatan-moderasi-beragama/
Soffi, D. A. (2023). Dialog lintas iman: Upaya Forum Kerukunan Umat Beragama dalam membangun kehidupan toleransi umat beragama. WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, 7(2), 176–192. https://doi.org/10.21776/ub.waskita.2023.007.02.5
Suprapto, S. (2025). Religious moderation in Indonesia: Concept, practice, and challenges. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities, 13(1), 1–14.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Pendidikan Agama

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
License Terms : CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0






