Filosofi Rewang Dalam Tradisi Jawa: Nilai Gotong Royong, Solidaritas Sosial, Dan Ketahanan Komunitas, Studi Pada Umat Hindu Di Desa Pandansurat Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu
Keywords:
Kata kunci: Rewang, masyarakat Jawa, umat Hindu, gotong royong, solidaritas sosial, ketahanan komunitasAbstract
Tradisi rewang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa yang mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah dinamika perubahan sosial, tradisi ini tetap dipraktikkan oleh sebagian komunitas Jawa di wilayah transmigrasi, termasuk pada komunitas umat Hindu di Desa Pandansurat, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Bagi masyarakat Hindu Jawa di desa tersebut, rewang tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas saling membantu dalam penyelenggaraan upacara keagamaan, hajatan keluarga, maupun kegiatan sosial, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat ikatan sosial, melestarikan identitas budaya Jawa, dan mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filosofi rewang dalam kehidupan umat Hindu di Desa Pandansurat, mengidentifikasi nilai-nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang terkandung di dalamnya, serta menjelaskan kontribusi tradisi tersebut terhadap penguatan ketahanan komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rewang dipahami oleh umat Hindu di Desa Pandansurat sebagai wujud pengabdian kepada sesama (seva), pengamalan nilai Tat Tvam Asi yang menekankan empati dan penghormatan terhadap sesama manusia, serta implementasi konsep Tri Hita Karana, khususnya aspek pawongan, yaitu keharmonisan hubungan antarmanusia. Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai budaya Jawa seperti rukun, guyub, tepa selira, dan tulung-tinulung yang memperkuat hubungan sosial dalam komunitas. Pelaksanaan rewang dilakukan secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan materi, sehingga membangun rasa saling percaya, memperkuat jaringan sosial, dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa filosofi rewang tidak hanya merepresentasikan budaya gotong royong masyarakat Jawa, tetapi juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai ajaran Hindu dan mekanisme penguatan solidaritas sosial serta ketahanan komunitas.Downloads
References
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Geertz, C. 1976. The religion of Java. Chicago: University of Chicago Press.
Durkheim, E. 1997. The division of labor in society. New York: Free Press.
Goa, L. 2017. Perubahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. SAPA-Jurnal Kateketik Dan Pastoral, 2(2), 53–67. https://doi.org/https://doi.org/10.53544/sapa.v2i2.40
Soekanto, S. 2012. Sosiologi: Suatu pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Sztompka, P. 2004. Sosiologi perubahan sosial. Jakarta: Prenada Media.
Horton, P. B., & Hunt, C. L. 1999. Sosiologi. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 1985. Javanese culture. Singapore: Oxford University Press.
Magnis-Suseno, F. 1988. Etika Jawa: Sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.
Hadiwijono, H. 2000. Agama Hindu. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Parisada Hindu Dharma Indonesia. 2005. Hindu Dharma. Denpasar: PHDI.
Koentjaraningrat. 1990. Sejarah teori antropologi. Jakarta: UI Press.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Pendidikan Agama

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
License Terms : CC Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0




